Peradaban20 Oktober 2026

Aksara Jawa, Font Thailand, dan Kode Penjinak Maling Digital

4 views
Aksara Jawa, Font Thailand, dan Kode Penjinak Maling Digital

MENTERI Kebudayaan RI, Fadli Zon, sempat berdiri tegak saat gala dinner semalam. Dia berbicara lantang memamerkan kekayaan budaya Indonesia ke mata dunia. Pagi ini, 20 Oktober 2026, di ruang Jakarta A, The Westin Resort Nusa Dua, Bali, ada lanjutan urusan budaya itu. Ada para ahli bahasa dan teknisi tingkat tinggi. Ada pakar aksara/pegon entah itu dari jawa, bali, dan yang lain. Mereka berkumpul khusus membedah aksara untuk Domain Name System (DNS). Supaya nama situsnya bisa pakai huruf-huruf unik.

Aturan dasar domain itu sebenarnya longgar. Cuma abjad dan beberapa karakter leksikal berbasis kode ASCII (subset aksara Latin). Tapi dunia digital sudah berubah. Standar Unicode sekarang menampung 172.882 karakter, termasuk 175 aksara tambahan dari seluruh bumi. Di sinilah spirit yang dibawa Pak Fadli Zon menemukan jalurnya. Komunitas sedang merancang agar aksara Jawa, Bali, Batak, Makasar dan beragam tulisan nusantara bisa sah menjadi nama domain di internet.

Tapi menyatukan bahasa manusia ke komputer itu rumitnya minta ampun. Harus inklusif sekaligus konstruktif.

Tantangan terbesarnya bernama Blok Varian. Ini murni urusan titik kode komputer. Banyak aksara yang wujudnya sangat mirip tapi kodenya beda. Ada karakter yang bunyinya sama tapi wujudnya beda, atau sebaliknya. Contoh paling pusing ada di bahasa Mandarin dan Arab. Bahkan, banyak aksara daerah kita yang tombolnya belum lahir di keyboard standar.

Komputer harus dipaksa pintar agar tidak "salah kamar". Komunitas ICANN wajib meminimalkan varian blok ini supaya pengguna internet tidak bingung. Menentukan varian di dalam satu aksara atau antar-aksara bukan perkara mudah. Aturan ketat pun dibuat, bukan soal mengeja bahasa, melainkan pembatasan teknis agar posisi label dan font tepat di layar. Aksara Bali dan Jawa punya kerumitan posisi yang setara.

Panelis di depan memberikan contoh konkret yang bikin merinding. Di aksara Thailand, kode 0E41 itu wujudnya sangat identik dengan kode 0E40. Kemiripan visual ini, memicu kreativitas orang-orang yang suka berbuat curang untuk modus phishing. Membuat website palsu yang luar biasa mirip untuk menipu orang.

Tanda nada Thailand punya hukum kaku; bunyinya tidak boleh tertukar dan proses merender font harus pas dengan nada itu. Seluruh standardisasi teknis ini dikodifikasi dalam format XML bernama RFC 7940, lengkap dengan format HTML-nya. ICANN mendorong setiap komunitas bahasa di dunia membuat ketentuannya sendiri, lalu ICANN akan menerbitkannya agar bisa dibaca oleh manusia sekaligus sistem komputer Registry.

Menariknya, ICANN menyediakan alat pengelola gratisan bersifat open source (sumber terbuka). Alat ini bisa langsung dicangkokkan ke perangkat lunak buatan kita sendiri untuk memeriksa validitas data dan membuat varian aksara otomatis. Di putaran program New gTLD Ronde 2026, sistem ini sudah dipakai penuh. Semua varian wajib patuh pada standar LGR (Label Generation Rules).

Siapa otaknya? Bukan staf kantoran ICANN, melainkan komunitas global itu sendiri. Semua usulan dari bawah disaring dan disatukan ke dalam Root Zone LGR. Angkanya luar biasa: ada 26 aksara terintegrasi menyentuh ratusan bahasa, digarap gotong royong oleh 270 komunitas aksara dunia, lewat rapat maraton selama 10.000 jam! Inilah yang disebut LGR tingkat atas.

Komitmen global ini berimbas langsung ke daerah. Ketika sebuah negara punya domain tingkat atas (TLD), mereka wajib menerbitkan layanan aksara lokalnya. Komunitas bisa meminta proses tinjauan tabel IDN (Internationalized Domain Names).

Pihak ccTLD seperti PANDI pun diminta berbicara. Ternyata Pandi bekerja bersama para pakar untuk menganalisis pegon-pegon nusantara. Ini adalah perjalanan awal bagi aksara nusantara. Nanti, aksara lain bisa diselesaikan dari pengalaman awal ini.
Ada Rekan dari Jogja yang memberikan wawasan bahwa ada muatan lokal mata pelajaran di sana. Dengan memadukan nama domain dengan aksara jawa, masarakat yang berbudaya ini ingiinya juga punya identitas digital. Tanda baca dan karakter yang diarsipkan dalam Unicode. Tapi, ada kesepakatan bahwa mana tanda baca jawa kuno maupun modern yang komunitas ini sepakati untuk dikecualikan. Karena bentuk visualnya sama. Kemiripan ini menyebabkan kebingungan dan ada potensi resiko keamanan.

Beginilah keluarga besar ICANN bekerja. Ribuan ahli linguistik di seluruh dunia disatukan. Siapa pun bisa melapor jika menemukan kejanggalan kode aksara untuk ditinjau oleh kelompok kerja bersama. Bahkan, kami para fellow diundang langsung untuk ikut pelatihannya, dilanjutkan dengan kerja uji coba serta analisis bersama. Internet masa depan tidak lagi cuma dijaga oleh kabel tembaga dan angka, tapi juga oleh kelestarian budaya kuno manusia.

Ternyata bahasa itu, terus berinteraksi dengan lingkungan saat ini. Agen bahasa ku, pun, musti sepeka ini (Putra Sucipto).